Saat aku duduk di bangku SD, aku sering dibully bertubi-tubi. Mulai dari dijadikan anak bawang, dihina, dipalak, dijadikan pembantu, bahkan dijadikan samsak tinju. Bahkan aku pernah mendengar kata-kata yang masih menusukku hingga kini. "Untuk apa kamu disini, mengapa kamu tidak bunuh diri saja, kamu menyusahkan, tak berguna". Aku selalu merasa rendah diri. Mereka memperlakukanku sesadis mungkin hingga aku yakin bahwa aku benar-benar pantas diperlakukan seperti itu. Mereka selalu bertanya "mengapa kau berbeda, tak ada yang lebih gila daripada dirimu" aku tersadar bahwa mereka berhak mengejekku 'kurang pintar' karena aku memang cacat secara emosional. Aku berbeda.
Tak tahu mengapa saat aku pindah sekolah karena aku akan melanjutkan ke bangku SMP, aku masih kerap diperlakukan tidak adil. Mereka selalu mengkritik diriku dengan kata-kata pedas. Aku merasa tak berdaya saat itu juga. Akupun belum melepas dendam dan rasa sakit masa lalu dimana aku sering disiksa layaknya tak ada lagi kesempatan untukku. Aku merasa hancur. Aku tak memiliki kelebihan yang pantas untuk kupamerkan, aku kurang pintar.
Bukan hanya itu, aku mulai merasa takut saat berhadapan dimana disitu banyak orang berkumpul. Aku tak bisa bergaul. Bahkan ketika aku bertemu dengan orang yang harusnya kukenal, aku hanya diam. Aku diejek bahwa aku bisu. Aku selalu merasa ketakutan untuk ditolak, dikritik atau direspon negatif. Aku mulai belajar bagaimana caranya melindungi diri agar tak dibully lagi. Menjadi tertutup bukanlah pilihan, namun suatu paksaan oleh keadaan. Dimana ada seorang yang sulit sekali berteman dan introvert, ada pula yang mudah bergaul dan supel. Aku sering di cap antisosial oleh guru dan teman-temanku. Aku sangat suka berada di tempat sepi sambil menghayal. Mereka tak lagi dapat mengangguku. Karena aku sendiri dan bebas.
"Never let them in"
